Categories
Pendidikan

Faktor Penentu Kepuasaan Audit

Faktor Penentu Kepuasaan Audit

Faktor Penentu Kepuasaan Audit

Faktor Instrinsik

  1. Prestasi dan pengakuan. Penempatan karyawan sesuai dengan talenta atau bakat yang dimiliki akan mendorong karyawan bekerja dengan baik. Dan ini akan memberikan dampak positif pada institusi dengan peningkatan produktifitas. Akan tetapi reward sistem juga harus dikembangkan mengingat karyawan juga membutuhkan pengakuan atas prestasi yang di hasilkan (Herzberg.1993).
  2. Tanggung Jawab. Pekerja akan merasa puas bila dapat melaksanakan tugas sesuai dengan tanggungjawab yang dibebankannya atau bahkan melebihi. Sebagai contoh pekerja yang dapat memenuhi target waktu yang telah ditetapkan perusahaan (Gibson,1985)
  3. Kemajuan dan kemungkinan berkembang. Diperlukan penghargaan kepada karyawan oleh karena prestasinya dengan meningkatkan status atau level pekerjaannya. Jika memungkinkan dapat diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan lanjut. Ini akan meningkatkan nilai mereka dan meningkatkan profesionalisme karyawan (Herzberg, 1993)
  4. Keragaman ketrampilan. Banyak ragam ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Semakin banyak ragam ketrampilan yang digunakana, makin kurang membosankan pekerjaan (Gibson,1985)
  5. Makna Pekerjaan (Work Itself). Jika tugas dirasakan penting dan berarti bagi karyawan akan memberikan kontribusi penting pada kepuasan kerja (Herzberg, 1993)
  6. Otonomi. Pekerjaan yang memberikan kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang dalam mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja.

Faktor Ekstrinsik

  1. Gaji, penghasilan yang dirasakan adil.Uang mempunyai arti yang berbeda-beda bagi orang yang berbeda. Disamping memenuhi kebutuhan tingkat rendah (makan dan perumahan) uang dapat merupakan simbol dari capain (achievement), keberhasilandan pengakuan/penghargaan. Lagi pula uang mempunyai fungsi sekunder. Jumlah gaji yang diperoleh secara nyata mewakili kebebasan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan. Jika dianggap gajinya terlalu rendah, tenaga kerja akan merasa tidak puas dan sebaliknya (Munandar, 2001).
    Hubungan antar karyawan.Tingkat kepuasan kerja yang paling besar dengan atasan adalah jika terjadi hubungan yang positif antara atasan dan bawahan atau hubungan horisontal antar rekan kerja.
  2. Rekan sejawat yang menunjang. Dalam kelompok kerja dimana para pekerjanya harus bekerja sebagai suatu tim, kepuasan kerja mereka dapat timbul karena kebutuhan tingkat tinggi mereka dapat terpenuhi dan mempunyai dampak positif pada motivasi.
  3. Kondisi kerja yang menunjang. Bekerja dalam ruang kerja yang sempit, panas dan cahaya lampu menyilaukan mata, akan menimbulkan keengganan untuk bekerja. Orang akan sering mencari alasan untuk keluar dari ruangan kerjanya. Kondisi kerja yang memperhatikan psinsip argonomi, misalnya ruangan yang sejuk, meja dan kursi yang bisa diatur, peralatan kerja yang bagus akan dapat memenuhi kepuasan kerja karyawan (Munandar, 2001).
  4. Prosedur dan kebijakan perusahaan. Sistem administrasi dan kebijakan yang mudah dipahami karyawan memudahkan karyawan untuk bekerja dengan penuh tanggungjawab tanpa disertai perasaan ketidakpuasan.
  5. Mutu supervisi. Dalam pelaksanaan supervisi harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dilakukan oleh seorang yang memiliki keahlian dibidangnya, sehingga dalam pelaksanaannya dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang ditemukan bukan hanya sekedar mencari kelemahan dan kesalahan karyawan.

Cara Pengungkapan Ketidakpuasan

Ketidakpuasan dapat diungkapkan dalam berbagai cara yaitu:

  1. Keluar: perilaku diarahkan dengan meninggalkan organisasi, yang meliputi mencari posisi baru sekaligus mengundurkan diri
  2. Suara: secara aktif dan konstruktif berupaya memperbaiki kondisi, yang meliputi menyarankan perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasan dan sebagian bentuk kegiatan perserikatan
  3. Kesetiaan: secara pasif namun optimis menunggu perbaikan kondisi, yang meliputi membela organisasi dari kritikan eksternal dan mempercayai organisasi dan menajemennya melakukan hal yang besar.
  4. Pengabaian: secara pasif membiarkan keadaan memburuk yang meliputi keabsenan atau keterlambatan kronis, penurunan usaha dan peningkatan kesalahan.

 

Sumber : https://carabudidaya.co.id/